UP Indonesia

   Nuansa Serpihan Pantai

By : Annisa Trania

Aku melihat pemandangan pantai begitu indah
Pantai berpasir putih nan lembut
Suara gulungan ombak yang berkejaran
Fatamorgana air laut yang kebiru-biruan

Membuat orang tertarik bermain dengannya
Kerang diatas pasir putih
membuatku ingnin mengambilnya
Ku tatap mentari seakan tersenyum menyinari pantai

Tapi saat ini...
Aku melihat pantai telah rusak
pasir yang putih, kini tak lagi putih
Ombak-ombak yang bersih menjadi kotor

Siapa yang merusak semua ini? kurasa manusia yang merusaknya
Aku yakin suatu saat nanti
Mereka akan sadar bahwa semua yang mereka lakukan salah
Mereka telah merusak pantai kita

-Nanda
4 Hari Berkesan di Negeri Singa
Pukul 05.00 pagi, aku bersama kedua orang tua ku bergegas berangkat menuju ke Bandara Soekarno Hatta. Setelah memakan waktu yang cukup lama akhirnya kami tiba di bandara, kami tidak hanya pergi ber tiga melainkan ber enam yaitu bersama Tante,Kakek,dan Saudara. Jam 11.40 kami semua berangkat menuju singapura, perjalanan yang ditempuh memakan waktu 1 jam 45 menit. Sampai di Changi Airport kami langsung memesan taksi untuk mengantar kami semua ke Hotel Royal Plaza, di perjalanan menuju hotel aku menikmati pemandangan yang disuguhkan Singapura, dari bandara menuju hotel memakan waktu 20 menit.
Setelah beristirahat sebentar di hotel, kita berjalan-jalan di sekitar Orchard Road yang letaknya tidak jauh dari hotel yang selama 4 hari akan kami tempati. Hari pertama di sana kita hanya berjalan-jalan disekitar Orchard Road. Ke esokan harinya kami seharian bermain di Universal Studio,di perjalanan Saudara ku yang bernama Abi berbicara begini,  
 Abi: "tante kapan nyampenya sih lama banget.." cetusnya
 Tante : "iya sabar ya bi bentar lagi sampe, emang Abi udah ga sabar ya?" balas tante ku
 Abi : "iya tante Abi udah gasabar pengen main, pengen liat dinosaurus sama transformer tante."
 Tante : "oh yaudah sabar ya bentar lagi sampe bi"  
 Sesampainya disana kami menaiki banyak permainan, mulai dari wahana transformer,jurasic park, dan masih banyak yang lainnya, di sana kami juga membeli kenang-kenangan untuk diri sendiri, di saat kami sedang berputar-putar di Universal hujan pun turun, untungnya Singapura terkenal kalau hujan tidak pernah lama. Sorenya setelah puas bermain-main di Universal Studio kami pulang ke hotel, di perjalanan kami semua kelelahan karena habis bermain-main seharian, malahan Abi pun tertidur di bus.  
Ke esokan harinya aku bersama kedua orangtuaku dan kakek ku pergi ke Mustafa sekedar untuk membeli oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman, saat ingin kembali ke hotel kami "iseng-iseng" mencoba naik MRT dan alhasil kami pusing sendiri harus turun dimana.
Saat sampai di hotel Tante sms ke Papa untuk segera menyusulnya ke Marina Bay Sand, alhasil kami yang baru sampai di hotel langsung pergi lagi untuk menyusul Tante dan Abi yang berada disana, kami memutuskan untuk naik taksi agar tidak kebingunagan seperti tadi saat menaiki MRT, di perjalanan aku tidak melihat sedikit pun sampah yang ada dipinggir jalan, berbeda sekali dengan Jakarta pikirku.
 Dari hotel menuju Marina tarifnya sebesar 10 dollar atau sekitar 80rb, di Marina aku bersama Abi menaiki Sampan Ride sambil menyaksikan air yang mengalir dari atas sebuah lubang lingkaran bagaikan air terjun, airnya hanya mengalir satu jam sekali.

-Hana
Kejadian memalukan
                Saat aku kecil, aku mengalami kejadian yang sangat memalukan sekali bagiku. Kejadiannya beberapa tahun lalu, saat aku masih kelas 3 Sekolah Dasar.
                Setiap sore datang, teman blok perumahanku; Sabda, Dhea, Kiki, Haikal, Haidar, dan temanku yang lain selalu mengajakku bermain bersama. Entah itu bermain cing jongkok, petak umpet, cing bata, ataupun bersepeda. Pada saat itu anak-anak perumahanku sedang senang bermain sepeda. Setiap sore dating kami selalu bermain sepeda bersama. Sering pula aku bermain dengan tidak memakai sepedakusendiri, tetapu bertukar dengan sepeda teman-temanku yang lain. Begitu pula teman-temanku.
                Saat itu, kami bertuka-tukar sepeda. Kebetulan aku memakai sepeda Kiki yang bermodel sepeda laki – laki sekali. Kami memutar blok perumahan terus – terusan sampai kami cape. Pada putaran terakhir, aku sampa duluan didepan rumah kiki. Mungkin karna aku kecapekan aku kehilangan keseimbangan dan akupun jatuh ke solokan dengan posisi tidur di solokan. Lalu akupun menagis karena kesakitan. Kiki yang berada dibelakangku pun langsung minta tolong.
“maaa, paa, Hana jatoooh.” Dengan memasang muka panik.
Akhirnya ibu-ibu dan bapak-bapak diblok rumahkupun berkumpul. Tetanggaku Mama Bren yang dekat sekali denganku langsung keluar dengan muka panic.
“jatoh? Mana Hananya manaa? Jatoh dimanaaa?”
Karna aku jatuh kesolokan jadi warga tidak melihatku.
“ituuuu.” Kata salah satu temanku, sambil menunjuk kesolokan.
“astagfirullaaah, Hanaaa. Kobisa jatoh sihh?” sambil mengangkat membantuku bangun.
Ayah dan Ibukupun tak lama keluar dan langsung membawaku pulang kerumah. Semua tetanggaku mengikuti, karna ingin melihat keadaanku.
“gimana bu? Ada yang luka?” Tanya salah seorang tetanggaku.
Ternyata pas dilihat kepalaku berdarah, luka kecil. Mungkin karna benturan yang sedikit keras.
“ ini Bu, dikepalanya. Luka kecil.” Sambil mencari obat. Dan akupun hanya bisa menangis.
Akhirnya salah seorang tetanggaku pulang untuk mencarikan obat untukku. Tak lama, beliaupun dating membawa obat, dan ayahku pun segera mengoleskannya ke kepalaku. Lalu ayahku memarahiku karena aku memakai sepeda lali-laki.
“makannya, jangan macem-macem. Sepedanya Kiki kan sepeda laki-laki!” kata ayahku.
Aku hanya mengangguk, sambil menangis.
***
Sesudah kejadian itu, akupun menyesal. Akhirnya aku tidak pernah bertukar sepeda dengan teman-teman lelakiku. Karena aku takut aku jatuh lagi dan masuk kesolokan lagi.


No comments:

Post a Comment